Terima Kasih Santa Theresia Kupang...


Pertama, terima kasih buat pak Dicky yang sudah memberi kesempatan untuk saya menulis di blog Speqsanther.  Jujur, ini baru pertama kali tulis di blog jadi maaf  Ada bahasa Kupang ju. Hahaha.
kalo tulisannya amburadul.
Nama saya Brigitta Ivana Fulbertus (@BrigittaNana). Biasa dipanggil Ivana atau Nana. Sekolah di SMPK St. Theresia Kupang. Bagian dari 9A. Mencintai Harry Styles dan anggota 1D lainnya serta Lee Min Ho dengan sepenuh hati.
Son rasa sekarang su abis ujian nasional. Kalo dipikir-pikir, sekolah 3 tahun tapi ditentukan lulus apa sonde hanya dari ujian 4 hari. Ujian nasional tu bikin saraf-saraf dalam tubuh tegang. Lingkar biodata dan jawaban sa tangan keringat dingin. Takut sonde bisa kebaca di komputer. Saya bersyukur karna sekolah di Santher jadi ada kegiatan-kegiatan rohani menjelang UN. Seperti novena, misa hari Sabtu sebelum menghadapi UN. Karena ada nasihat dari teman-teman, guru-guru dan kotbah dari romo, dan berdoa banyak, perasaan tegang tu lama-lama berkurang. Dan pesan yang tiap pagi slalu saya renungkan sebelum ujian: “Hasil yang Tuhan berikan adalah yang terbaik, jadi bersyukurlah”

Brigitta Ivanna Fulbertus (sumber: http://www.facebook.com/ivana.fulbertus)
Dulu waktu pertama kali dengar guru-guru mau buat pembagian kelas untuk kelas 9, rasanya sedih, son mau pisah sama teman-teman kelas 8. Akhirnya waktu pembagian kelas, saya masuk di kelas 9A. ketong biasa sebut 9A pake kata “ASEA (Arena Sembilan A)” . wali kelasnya pak Istho. Pak Istho tu guru yang cinta dia pung anak-anak mati punya. Selalu beri nasihat-nasihat dan cara belajar yang benar. Pak Istho mengajar bahasa Inggris. 1 hal yang lucu dari pak Istho tu selalu pegang dia pung Blackberry. Biar ada jalan di trotoar sa mata slalu di layar BB. Di 9A, ketua kelasnya Ria Ludony. Ria yang buat ketong pung kelas makin kompak. Kalo kelas su ribut, dia pasti teriak “diam dolo. Di ini kelas bukan hanya besong sa, orang lain ju mau belajar” sambil muka cemberut dan marah. Kalo waktu kelas beribut, trus ada guru yang lewat, semua mulai acting, yang tadi bacerita, mulai ambil buku supaya sengaja baca buku. Yang ada buka laptop langsung tutup. Itu semua biar  guru sonde marah dan sonde dapat hukum.
Saya mau cerita tentang guru-guru di Santher. Mulai dari yang paling senior, Pak Ambros. Pak Ambros mengajar bahasa Indonesia. Pak Ambros selalu buat anak muridnya kritis untuk bertanya. Dan bisa baca pikiran orang. Itu yang paling ketong takut dari pak, kalau pak ada mengajar di kelas trus pak baca ketong pu pikiran dan kasi tau di 1 kelas. Ada ju pak Polce, pak Polce mengajar fisika dan matematika. Ciri khasnya dari pak Polce tu bahasa yang su terkenal lama dari berbagai generasi, yaitu kalo marah bahasa “Kampret” dan ada istilah “Moleng”. Pak Polce biasa pake istilah Moleng untuk cubit telinga. Selain itu ada istilah “tikam lutut”, artinya berlutut. Dan bisa disimpulkan pak Polce orangnya tegas.   
Ada Pak Flory, guru matematika, punya tongkat ajaib dan cubitan yang luar biasa sakitnya. Pak flory ajar anak-anak supaya kerja soal matematika pake waktu misalnya 1 soal 3 menit. Lewat dari itu atau ada yang jawab salah, siap-siap tongkat ajaib atau cubitan melayang di ketong pung badan. Pak Jack, guru Bahasa Inggris. Pak Jack kalau bicara selalu ada tambahan ‘S’ di akhir kata. Kata anak jadi “anaks”. Pak Vincent, guru biologi yang tegas, kalo bicara setiap akhir kalimat harus ada kata “ya”. Pak Didi, guru fisika + Pembina OSIS. Pak didi orangnya tegas, rapi, dan suka hukum anak-anak dengan cubit di telinga pake kuku yang panjang, atau pukul tangan pake penggaris kayu. Sakitnya bisa bertahan 24 jam. Pak Anis, terkenal akan kumisnya yang cetar membahana badai ulalaaaa.
Awal kelas 9, banyak guru-guru baru yang bawa banyak perubahan di sekolah. Salah satunya pak Dicky. Pak Dicky punya banyak ide yang buat anak-anak makin betah di sekolah. pak Dicky buat blog, media positif, dan acara-acara sekolah yang luar biasa. Waktu itu pak Dicky mengajak saya bersama beberapa teman untuk menggarap film pendek perdana. Saya langsung mengatakan “Iya, mau Pak”. Dan lahirlah film pendek perdana di sekolah yaitu Proverbs 17:17. Lalu film pendek kedua Sang Pengelana. Berkat pak Dicky juga mading sekolah kembali aktif dan membuat siswa kalau jam istirahat rame-rame ke depan ruang kepala sekolah untuk membaca mading yang sesuai dengan jiwa anak muda. Ada juga aksi #Geser for #Rokatenda. Setiap anak dengan sukarela menyisihkan seribu rupiah untuk saudara korban bencana letusan gunung Rokatenda di Flores. Jujur, saya senang karena adanya guru-guru kece ini, sekolah makin bersemangat dan berwarna. Coba sa pak dan ibu masuk mengajar dari kelas 7, mungkin ketong su lebih banyak belajar untuk lebih memanfaatkan internet kearah positif dan buat acara-acara yang seru pastinya.
Oiya, di sini saya juga akan berbagi pengalaman. Sebelum Ujian Sekolah di bulan April, sekolah libur paskah. Waktu libur, saya pergi ke Flores khususnya Larantuka untuk mengikuti prosesi Semana Santa. Perjalanan di lakukan 6 hari, berkunjung ke Larantuka, Hokeng, Maumere dan Ende. Di sana saya banyak berdoa untuk Ujian Sekolah dan juga Ujian Nasional. Di situ saya khawatir kalau sampai nilai jelek waktu US karna pulang dari Flores hari Senin, dan hari Selasanya langsung ujian. Tapi hasil ujian saya memuaskan dan saya percaya kalau hidup itu harus “Ora et Labora” yaitu berdoa dan bekerja.
Selama 3 tahun di St. Theresia, banyak pengalaman yang lucu, senang, sedih, mengharukan bersama teman-teman dan guru-guru. Dan guru-guru punya cara-cara tersendiri buat mendidik siswa. Ada cara halus dan cara yang kasar di mata orang lain. Ada cubit, pukul, kata-kata kasar. Tapi percayalah bahwa mereka sebenarnya ingin supaya siswa-siswa nya menjadi penerus bangsa yang jauh lebih baik dari mereka. Mereka ingin supaya anak didiknya menatap masa depan yang cerah dan menjadi orang yang berhasil bukan menjadi orang gagal dan terpuruk.
Jadi buat teman-teman, adik-adik, kakak-kakak alumni, mari ketong bersyukur pernah sekolah di SanTher. dan terima kasih ju buat guru-guru yang slama 3 tahun ini slalu memberikan yang terbaik dan berusaha sungguh-sungguh buat anak didiknya menjadi orang yang sukses di kemudian hari.


_____________
 
Brigitta Ivanna Fulbertus, siswi berprestasi dan ramah pada siapapun. Sutradara film pendek sekolah, Proverbs 17:17. Selama di Speqsanthers, Nana, begitu biasanya ia disapa adalah pengurus OSIS. Setelah tamat dari SMPK St. Theresia, Nana akan melanjutkan studinya ke SMA St. Louis Surabaya. Good luck terus ya Na…
Bagikan di Google Plus

Redaksi menerima tulisan berupa cerpen, puisi, karya ilmiah remaja, gambar (karikatur/desain grafis) dan foto. Akan dimuat di majalah dinding, majalah elektronik dan blog ini.
Email: speqsanthers@gmail.com
    Komentar
    Komentar dengan Facebook

2 komentar:

  1. PROFICIAT buatmu SPEQSANTHERS(+)dan seluruh siswa/i SMPK STa. Theresia Kupang... saya senang dan turut berbangga dengan kreativitasmu yang sangat menakjubkan..gunakan kesempatan ini.. tingkatkan talentamu. jangan segan-segan membagikannya kepada orang lain. semakin banyak kita memberi maka akan semakin banyak anda mendapatkannya...

    BalasHapus
  2. I'm Very proud of you, BRIGITTA IVANA FULBERTUS (Nana). You've done the best for you yourself and, of course, for me and the almamater SpeQsanTher... I'm glad and proud for being one of the parts of your life... As your Class Guardian since you were in Class up to 9, I'm so glad that you're finally being the best of all students of Speqsanther, even of all SMP students in NTT right now. As an English Teacher of you, you've lifted me to the top level of gladness...because you got 10 in English, a perfect grade, one which is hardly achieved by the students last 5 years.
    I just can say "Thank You, Ivana"... and I do and will do pray for your success in the next levels of struggle all your life through. Good luck and GBU

    BalasHapus