![]() |
| sumber: www.mhsmustangnews.com |
Cerita Bersambung Oleh Monika Wawin
1.
“Hei! Lihat dia! Apa dia tak tahu malu? Kalau pecundang, yah pecundang saja, tak usah sok hebat. Kan kasihan, sudah sok-sokan kuat padahal IQ-nya
jongkok… hahaha… oh salah, maksudku tiarap… hahaha…” ucap seorang kepada
teman-temannya dan di ikuti tawa riuh. Sedangkan seorang cowok lain yang baru saja
keluar dari ruangan BP, menampakan ekspresi orang yang tengah menahan amarah.
“Lebih baik keluar saja
dari sekolah ini, daripada bertahan tapi dianggap seonggok sampah yang tak
berguna”,
“Huh…
kasihan ‘Kelas Sampah’… hahaha…”
Cukup. Sekarang kesabarannya telah habis.
Cowok yang dihina terus itu berjalan ke arah
orang yang tadi mengatainya lalu mencengkram
erat kedua kerah baju mereka dan mengangkatnya.
“Apa yang kau lakuakan? Uhauk!” tanya seorang dari
mereka, namun karena cengkraman cowok itu terlalu keras akhirnya dia tak
bersuara lagi.
“APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP, HUH?!” seketika itu juga
lorong tempat mereka berada berubah sunyi. “Choki, lepaskan mereka!” titah
seorang yang ada di situ.
“Diam kau!!” bentak Choki –sang pembuat gaduh. Orang itu langsung menutup mulutnya
rapat-rapat.
“Jangan
pikir kalian orang-orang pintar jadi kalian dapat berkata seperti itu kepadaku”
ucap Choki geram.
“CHOKI!” tiba-tiba datang seorang pria paruhbaya dari
arah belakang Choki.
“Turunkan
mereka!” dengan entengnya Choki langsung melepas kedua orang itu dan terjatuh
kelantai.
“Awww!! Uhuk… uhuhuk!!” Choki hanya
menatap jengah ke arah
kedua orang korbannya yang tengah mengadu kesakitan.
“Apa kau belum puas berurusan dengan guru BP, hah?!”
Choki hanya memutar kedua bola matanya malas.
“Jawab
aku ‘anak Sampah.” Mendengar
itu, emosi Choki yang tadinya telah mereda sekarang kembali membuncah seketika.
Kedua tangannya terkepal erat.
“Kau..!”
hampir saja kepalan itu mendarat di wajah pria paruh baya dihadapannya kalau bukan berkat
sekelompok anak yang entah darimana datang
dan menggagalkan niat Choki.
“Lepaskan
aku!!!” teriak Choki. Walaupun agak kesulitan memegang Choki yang terus
memeberontak, tapi pada akhirnya berhasil.
“Dasar anak kurang ajar! Bawa dia pergi!!” Choki langsung
diseret dari tempat itu.
“Hei!
Choki! Jika kau berani, lawan aku” dengan sekali sentakan, Choki berhasil
terlepas dari cengkraman sekelompok anak-anak itu.
“Apa itu?”
“Aku tahu
jika aku mengajakmu adu fisik, sudah di pastikan aku kalah. Tapi aku ingin
mencoba melawanmu dengan sesuatu yang tak pernah kau duga” dahi Choki langsung
berkerut pertanda ia tak mengerti dengan perkataan cowok yang ber-name
tag
‘Agung B. Pratama’.
“Aku
ingin melawanmu dalam bidang Akademik, apa kau bersedia?” terukir senyuman
mengejek di bibir Agung.
“Aku
terima tantanganmu” semua orang yang berada di situ
langsung tercengang dengan apa yang mereka dengar, termasuk Agung. Namun dia
bisa menyembunyikan rasa kagetnya itu.
“Ok. Jika kamu ingin menang dari kelasku, maka perolehan
nilai kelasmu harus lebih tinggi dari pada kelasku. Jika tidak maka kau dan
teman sekelasmu harus meninggalkan sekolah ini”,
“Tunggu
dulu. Bukannya pertarungan ini hanya antara kita berdua saja? Kenapa sekarang
malah bawa anak sekelas?” Agung hanya tertawa sekilas lalu menjawabnya, “Lebih seru jika menyingkirkan kumpulan
sampah seperti kalian” ingin sekali rasanya Choki memukul Agung sampai semaput.
“Yah
terserah. Tahapannya
Ujian MID Semester, Ujian Semester, Ujian Kenaikan Kelas, dan penentuan
terakhir adalah Ujian Nasional…”,
“Ah..
satu lagi.. jika kalian kalah, maka kalian semua harus angkat kaki dari sekolah
ini”, “Jika kami menang, kalian yang harus ditendang keluar dari sekolah ini”
“Deal?”
“Deal” jawab
Choki dengan mantap.
.
.***
SMA CITRA NUSA BANGSA adalah sekolah elit yang terkenal
dengan murid-muridnya yang pintar dan guru-gurunya yang ramah. Namun, siapa
yang tau jika dibalik itu semua tersimpan rahasia yang jika ketahun maka image sekolah itu ‘mungkin’ akan hancur.
Ternyata di sekolah ini
bukan hanya terdapat murid-murid yang pintar saja, tapi juga murid-murid yang
‘kurang’ pintar dan pembangkang juga suka
berbuat onar di mana saja. Tidak hanya itu, guru-gurunya
juga memiliki sifat ‘pilih kasih’. Anak-anak yang pintar, mereka beri kasih
sayang yang melimpah, sedangkan yang lainnya mereka anggap sampah. Apa di depan
publik mereka memakai topeng kebaikan? Ah... Dan
satu hal yang perlu kalian tahu,
anak-anak pintar itu memiliki sifat yang sama denga guru kesayangan mereka yakni
menganggap anak-anak yang dibawah mereka adalah sampah. Benar-benar topeng yang
bagus.
Lain halnya dengan pihak anak-anak yang kurang pintar,
mungkin kerena mereka sudah capek
dengan semua ini sampai-sampai mereka membiarkan semua orang menindas, memaki
dan menginjak-injak harga diri mereka. Mereka bisa saja untuk melawan bila
perlu sampai mengantar orang-orang itu memasuki neraka, tapi mereka tak punya
ruang untuk bergerak karena tak ada seorang pun yang ingin berpihak pada
mereka. Dan juga kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang tak mampu,
masuk sekolah ini pun mengandalkan jerih payah orang tua mereka yang bisa
dibilang tak gampang. Apa yang bisa mereka lakukan, selain diam dan menerima
semuanya. Toh.. nanti juga mereka akan meninggalkan sekolah ini bukan?
Tapi
bagi seorang Choki Tommy Hermawan, semuanya itu tak boleh terjadi. Dia paling
benci dengan ketidakadilan, kemunafikan dan kekangan. Dia adalah pembangkang
No.1 di daerah ini dan pembuat onar. Dan satu tindakan bodoh yang ia lakukan
sekarang adalah menerima tantangan yang tak masuk akal dari Agung Brim Pratama.
Sudah tahu
kalau Agung adalah anak paling berpengaruh di sekolah itu yang dalam artian
kaya juga pintar, eh… malah Choki menerima tantangan dari orang itu. Alasannya
karena ia tidak suka diinjak-injak harga dirinya. Berkat dia, mulailah
pertarungan antara ‘Kelas Unggul dengan Kelas Yang Selalu Dianggap Sampah’.
“Astaga Choki! Apa kau ini gila? Bisa-bisanya kamu
menerima pertarungan konyol itu” komentar seorang cewek dihadapan Choki.
Namanya Milla. Yap, sekarang Choki tengah diadili oleh teman-temannya karena
tingkah bodohnya itu. Mereka adalah Milla, Bima, Adji, Rocky, Astrit, Dian dan Tato.
“Choki apa kau tak berpikir panjang dulu sebelum menerima
tantangan itu? Kenapa harus
kami yang kau bawa dalam taruhanmu itu? Aku
masih ingin sekolah Choki. Apa
kau tak punya otak samapai kau mau bertarung dalam bidang akademik melawan Agung? Oh,
God!” telinga Choki
serasa di bakar dia atas barah api yang sangat panas.
“Apa kau ini seorang jenius, sampai ma..”
“SUDAH
CUKUP!” Dian langsung menutup mulutnya yang sedari tadi belum selesai memarahi
Choki.
“Aku
akan buktikan ke mereka semua kalau kita bukanlah seonggok sampah yang tak
berguna. Toh yang aku lakukan ini untuk menyelamatkan harga
diri kalian juga.”
Selesai mengatakan itu, Choki langsung
berjalan keluar dari kelas kumuh itu. Tato bangkit dari tempat duduknya lalu
berkata, “Dia pasti mempunyai alasan atas apa yang ia perbuat.” Setelah
itu Tato pun keluar menyusul Choki.
Bersambung…
***
Monika
Wawin adalah siswi kelas IX D yang juga wakil ketua OSIS di
SMPK St. Theresia Kupang. Pembawaannya kalem namun bisa juga sangat tegas.
Sangat suka menulis disela-sela kesibukannya belajar dan mengerjakan PR.

0 komentar:
Posting Komentar