Jadilah Pribadi Yang Beriman dan Berilmu



Profil Sr. Dafrosa Muti, SSpS, SE
Suster Dafrosa Muti, SSpS merupakan anak sulung dari pasangan Gabriel Koi dan Kornelia Tay yang hidup dengan kakek dan nenek, karena pada saat itu suster adalah cucu pertama yang sangat disayangi oleh kakek dan neneknya. Anak sulung yang lahir di Looneke 13 April 1971 sejak kecil sudah diharapkan akan membimbing dan membantu adik-adiknya. Dalam sebuah kesempatan, Glenn dan Putri Kolfidus dari kelas 7G bersama Iren Dandung dari kelas 7C melakukan wawancara terhadap beliau. Berikut ini petikan wawancaranya.

Bisakah suster ceritakan keinginan masuk biara pertama kali muncul? Bagaimana tanggapan keluarga pada saat itu?
Keinginan menjadi suster muncul pada saat kunjungan dari suster-suster SSpS ke kampung halaman saya. Sebagai anak kecil, saya merasa kagum akan cara berperilaku, tutur kata dan cara berpakaian. Ada keinginan untuk meniru sifat will be given pada suster dan sejak saat itu timbullah keinginan untuk menjadi suster.  Tanggapan keluarga saat itu masih sangat berat, terutama ibu saya. Saya masuk biara tanggal 11 Juli 1990. Sepulang liburan setelah menjalani hidup di biara selama setahun barulah ibu merelakannya dan menerima keinginan saya menjadi seorang suster.
 Mengapa memilih SSpS bukan biara yang lain?
Karena suster SSpS-lah yang pertama saya temui di kampung dalam sebuah kunjungan.
Adakah sosok yang menjadi motivator bagi suster selama hidup membiara?
Ada beberapa orang yang menjadi motivator bagi saya seperti beberapa suster senior yang ada di biara. Kalau dari keluarga, ada sosok paman yang senantiasa rajin berdoa dan memberikan banyak motivasi untuk saya.
Apa rasanya hidup dalam membiara?
Rasanya seperti hidup dalam keluarga di mana ada suka dan dukanya. Ada banyak tantangan di sana. Tantangan tersebut saya lalui dengan doa dan semangat.
Sejak kapan suster menjadi kepala sekolah di SMPK St. Theresia Kupang? Sebelumnya bertugas di mana?
Saya mulai menjabat sebagai kepala sekolah di SMPK St Theresia Kupang sejak 2012 hingga saat ini. Sebelunya saya bertugas di Yayasan Regina Angelorum di Atambua.

Bagaimana suster melihat potensi dan perkembangan SMPK St. Theresia hingga usia ke-60 tahun ini?
Hingga sata ini SMPK St. Theresia telah menghasilkan lulusan yang berbakat dan berprestasi. Siswa di sini tidak hanya pintar dalam bidang pendidikan namun juga berbakat dalam aspek yang lain.
Apa sajakah rencana atau program kerja dari suster untuk sekolah ini ke depan?
Saat ini sedang dilakukan pembangunan gedung sekolah untuk penambahan ruang kelas dan fasilitas lainnya. Dan mungkin saja akan dilakukan kerjasama kembali dengan Negara Australia dalam bidang pendidikan.
Setelah sekian tahun hidup membiara apa saja kesan yang penting dan menarik yang bisa suster bagi buat kami?
Hidup membiara adalah panggilan yang harus dijalani dengan tekun, semangat dan doa serta pengorbanan. Begitu juga anak-anak, dalam pendidikan kalian harus rajin belajar dan tekun berdoa sehingga bisa menyelesaikan studi tepat waktu.
Suster punya pesan khusus buat para siswa yang ingin masuk biara entah sebagai pastor atau pun suster?
Pesan saya, bila ada anak yang terpanggil untuk menjadi suster atau pastor tekunlah berdoa dan konsultasikan dengan orangtua, suster dan pastor. Supaya panggilan Tuhan itu dijawab dengan sukarela dan tanpa ada paksaan.
Apa pesan untuk seluruh keluarga besar SMPK St. Theresia?
Untuk para siswa, belajarlah dengan tekun, kembangkan bakat dan keahlian kalian dengan baik sehingga akan menjadi pribadi yang beriman, berilmu dan bergun bagi sesama, keluarga dan bangsa kita.                                                    
(Editor: ChristianSenda)
Bagikan di Google Plus

Redaksi menerima tulisan berupa cerpen, puisi, karya ilmiah remaja, gambar (karikatur/desain grafis) dan foto. Akan dimuat di majalah dinding, majalah elektronik dan blog ini.
Email: speqsanthers@gmail.com
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar