THERESIA BIKIN KENANGAN PERMANEN DI HATI



Oleh Christin Restiani Millu


Hai semua!
Mungkin sapaan ini telah dipakai semua blogger yang memasukan pengalamannya selama di SMPK tercinta Santa Theresia.  Kenalkan aku Christin Restiani Millu, salah satu siswi kelas 9A. kalian bisa memanggil aku dengan Christin atau Itin akrabnya. Selama di sekolah ini, banyak sekali kejadian dan peristiwa yang telah terjadi, entah itu sesuai dengan keinginan hati atau tidak atau mungkin yang sama sekali tidak pernah dibayangkan oleh aku. Aku ingin menceritakan semua yang terjadi, tapi aku bingung -_- aku bingung harus memakai bahasa apa, bahasa Indonesia yang baku, atau bahasa kita bahasa Kupang. Tapi, karena kebanyakan memakai bahasa yang mudah dimengerti yah aku ikutan aja…
bersama Mama (dok pribadi)
Ceritanya berawal dari pertama kali mengikuti tes, hasilnya memang mengecewakan dan aku pikir sama sekali tidak ada harapan. Ketika ingin memasuki SMP, aku dan keluargaku sempat berbeda pikiran tentang di mana dan bagaimana ke depannya. Keinginanku yang membuat mamaku setuju aku masuk di SMP ini, walaupun setelah mendengar aku tidak lulus tes sempat berubah pikiran dan berkata, “mending masuk SMPN 2 sa ma…” kejadian ini selalu diungkit mama setiap waktu ketika mama mengingatnya. Aku di sini awalnya hanya ingin mengikuti teman-teman akrabku yang akhirnya beberapa dari mereka harus berbeda sekolah bahkan ada yang sampai Makassar. Kenyataannya sudah berkata begitu jadi kita ikutin sajalah.
Berlanjut ke MASA ORIENTASI SISWA, tidak pernah terbayang oleh aku tentang kejamnya para OSIS mengerjai kami. Entah disuruh nyanyi, ngejawab pertanyaan, sampai disuruh ngatain cinta pada orang yang baru aku kenal, kebayang ga tuh? Ga enak sangat. Seingat aku hanya untuk mendapatkan satu tanda tangan saja harus keringat dingin hadapin kakak-kakak senior yang terbilang usil bahkan usilnya menjadi-jadi. Ada OSIS yang paling bikin aku ga mood, eits! Tapi ga boleh dipublikasikan di sini, takut orangnya baca. Tidak kalah sadisnya dengan semua senior pramuka, disana kita harus pakai penutup kepala tudung saji, ikat pinggangnya dari tali raffia, dan tidak lupa membawa dot para bayi. Selama itu sih ga ada yah yang bikin jengkel, tapi pas campingnya yang sangat sangat dan sangat menjengkelkan. Tidak perlu disebut namanya, tapi dia ga nanya dulu sebelum ngehukum aku. Aku disuruh push up sebanyak 20 kali, hanya gara-gara ngeladeni temanku yang pria adu mulut. Aku lupa kenapa aku bisa marah, tapi yang aku ingat dia memaki aku sehingga emosiku mencuat naik.
Selama disana ada saja kelakuan para senior yang aneh, tapi indahnya kebersamaan ga apa-apa sih. Kejadian lucunya, waktu mandi di kali Tjieci berenang dengan HPnya sekaligus, dan ketika sudah beberapa saat dalam air baru dia sadar dan HPnya rusak, ada juga yang seragam pramukanya tertukar.
Kemudian saat pertama masuk dan mengikuti pelajaran hingga sekarang, kenalkan walikelas pertama aku, Mr. Jacobus Seran, beliau seorang guru bahasa Inggris yang seperti dikatakan Ivana selalu menambahkan “s” diakhir kata yang ia ucapkan, seperti “anaks,” tidak tahu menahu sengaja atau tidak sengaja. Selanjutnya aku kenalkan guru yang aku anggap cerewet, ibu Gonda tercinta yang mengajarkan aku Biologi dengan gaya mengajarnya yang kadang membuat tangan rasanya mau pindah saja dari tempatnya, setiap kali pertemuan selalu ulangan atau tes, dan soal andalan mautnya “sebutkan, jelaskan, dan gambarkan” gimana ga patah tuh tangan nulis, mikir, pluss harus nyesuain dengan waktu yang terburu-buru. Jujur saja hasil tesku dibilang tinggi tapi lihat dulu dong tulisannya…. CAKAR AYAM …. Guru Matematika, pak Santana yang selalu memuji aku karena setiap kali diberi pertanyaan yang ingin maju itu aku, tapi soalnya bikin pusing 7 keliling. Dan akhirnya pak Santana pindah lalu diganti dengan pak Alex, guru yang suaranya lembut, kalimatnya pedis di hati dan jangan lupa soalnya kadang seperti maut. Hehe..
Ada guru Fisika nih di sini yang terkenal dengan sebutan “MOLEN,” siapakah dia? Yups, dia adalah pak Polce Fernandez guru yang asik tapi maaf yah pak, kalimatnya terlalu banyak bunga bikin ngantuk setiap kali pelajaran, atau lagi ngomong-_-. Tapi, karena pak Polce ini, aku jadi tahu kalau sekarang kemampuanku berpindah ke Fisika dan mendorong aku untuk mencalonkan diri untuk mengikuti bimbel Fisika persiapan untuk mengikuti lomba atau olimpiade di bawah bimbingan pak Nickolaus Fernandez. Adik kakak ini memang sama-sama sangar dan jahat, pak Didi akrabya pernah bahkan berulang kali memukul aku dengan anak yang lain itu juga kalau salah. Tapi, dibalik sosok jahatnya pak Didi ini sangat perhatian dan asik diajak berteman, dia lucu, baik tapi kadang usil, suka gangguin yang gak penting. Sekarang aku menganggapnya sebagai sahabat dan orang tuaku. Berkat pak Didi juga aku bisa mengikuti lomba-lomba yang diadakan bahkan sampai olimpiade ya walaupun gagal tapi bisa menangin lomba-lomba yang lain, bisa ngerasain jadi paskibraka dan juga pudingku bisa laku terjual.
Kemudian ada ibu Neneng, atau ibu Tres sapanya, ibu yang cantik dan manis seperti gula, tapi kadang katanya menyakitkan di hati, guru IPS Sejarah yang awalnya paling buat aku sakit kepala. Bagiku belajar IPS adalah hal yang paling membosankan, sehingga di kelas 7 nilai ulangan atau ujianku pas-pasan bahkan tidak mencapai ketuntasan. Adalagi yang mengajar IPS Geografi, sapaannya ibu Aloysia. Dia juga guru yang cantik dan pelajarannya bisa membuatku untuk mendapatkan nilai yang selalu di atas ketuntasan walaupun tidak belajar. Kemudian ada pak Anton Anton. Beliau mengajar PKN, tapi emang benar sih sebutan yang dibilang anak kelas 7, soalnya perutnya yang buncit dan tingkahnya yang seperti itu membuatnya semakin lucu. Ada rahasia sendiri dengan pak Anton, rahasia ini sebenarnya adalah kenakalan anak sewaktu sekolah “NYONTEK”.
Selama kelas 7 sampai kelas 8, terlalu banyak bahkan untuk beberapa teman di kelas keseringan untuk nyontek walaupun sudah dipindahkan tempat duduk, aku ingat waktu kelas 8 dulu ketika ulangan aku dipindahkan ke belakang tapi tidak menghilangkan akalku untuk melakukan hal itu. Teman-temanku yang sakin antusias mengoperkan buku catatanku ke belakang lalu aku melihat jawaban dari pertanyaan dan ketika pak mulai curiga, aku menyelipkan bukunya di antara buku gambar. Walaupun sudah nyontek, tapi tetap saja nilaiku hanya mencapai 70-an. Lalu ketika masuk kelas 3, ketemu lagi dengan guru gokil tapi sangar, ya siapa lagi kalau bukan pak Sius. Sang wakil kepala sekolah yang bikin suasana jadi berubah ketika semua tegang tapi terkenal dengan benda keramatnya yaitu kabel. Mungkin karena sering terbuai dengan nyontek jadinya ketika tes awal dengan beliau, pertama kalinya aku menyentuh angka 5 untuk mata pelajaran PKN, huh.. aku tobat, ga lagi-lagi nyontek.
Lalu ada lagi guru yang bikin kesel tapi pengajarannya sekarang bermanfaat, ibu Lisa penguasa mesin ketik. Ibu Lisa ini selain mengajarkan tentang hiruk-pikuknya mesin ketik, dia juga mengajar di bidang agama ketika angkatanku, ga tahu sekarang masih atau ga. Setiap masuk kelasnya, rasa-rasa tangan, jari, pundak, sampai kuku terasa ngilu, bukan millu yah… tapi sekarang kayaknya untuk menekan tuts laptop terasa enteng dan cepat. Ada lagi nih guru yang cuek, dingin tapi suka gangguin orang dan pakarnya mesin, pak Lino namanya, seorang yang mengajarkan tentang Elektro sebenarnya lebih rangkapnya tentang peralatan yang digunakan dalam pelistrikan. Sekarang dia sedang melanjutkan study dibidang fisika, wah bisa saja dong ada guru baru nanti di sekolah.
 Sstt, ada lagi nih guru yang mukannya pluss kata-katanya sangar bener, pak Anton Tualaka. Kan yang tadi pak Anton Anton, sekarang pak Anton yang berbeda… dia mengajar tentang keterampilan yang lebih ke melukis. Kalimat andalannya dia “kalau saya lihat anak TK Maria Goreti dan SMPK St Theresia dilombakan, pasti anak TK yang menang.” Lukisannya memang bagus, tapi awal belajar dengan dia, aku seperti lagi ngehitung 1 X 0 = 0 soalnya dari kelas 7 hasil lukisanku paling nilainya itu-itu mulu, eh tapi pas naik kelas 2 bisa aja yah kalau lagi merasa sesuatu yang tidak enak coretin aja kuas beserta catnya diatas kertas putih, hati dijamin tenang dan plong. Kemudian ketika kelas 3, guru keterampilannya jadi berubah menjadi seorang suster namanya Sr. Gratiana. Pertama kali masuk, suster mengajarkan kami mengkristik. Untuk aku kristik hal yang gampang tapi waktu pengerjaanya yang sangat lama bikin orang yang ngerjainnya jadi bosan apalagi kalau pas pelajarannya suster ga ada, bikin sesak yang ada, trus pas dia masuk aku malah ga bawa alat bahan akhirnya nilai keterampilannku 65. SESAK!! Trus yang kedua, bikin bunga dari pita beserta potnya dari sabun, hasilnya memuaskan dan yang terakhir itu bikin angsa. Angsaku miring kayak otakku yang miring kata suster, ya ga apa-apalah, intinya sukses!
 Kita intip lagi ke lab computer, ada siapa yah? Ehh ada pak Willy, guru yang mengajarkan TIK ini selalu memberi soal yang bikin ngos-ngosan, tapi hasilku sesuai dengan perjuanganku, ada gerakan yang bisa dibilang lucu dari pak Willy, tapi aku ga bisa jelasinJ, trus pas kelas 3 ga tahu kenapa bisa dibilang konconya 9A, kata teman-teman, yang bikin rame di BBM itu salah satunya pak Willy ini. Lalu ada guru seni budaya pak Anis… guru dengan ketebalan kumis ini mengajarkan seni budaya yang bisa dibilang bahasannya hanya disitu-situ aja, ga pernah maju, dan selalu menambahkan “ya,” diakhir kalimat yang diucapkannya, tingginya menjulang dan kalau lagi ngajar dirigen, mimic mukanya bikin ketawa kecil dalam hati. Maaf paaak.... ;)
Ada juga pak Finsen Kiik yang menambahkan kata “ya,” diakhir kalimatnya. Beliau yang mengajarkan aku Biologi ketika sedang mempersiapkan diri untuk babak perempat final, semi final dan final lomba biologi di Undana. Guru lain yang membimbing kami selama perlombaan dan juga yang mengajarkan biologi di kelas 3, yaitu ibu Vin. Tapi, tetap saja aku masih ingin diajarkan ibu Gonda. Siapa lagi yah yang belum dikenalin? Oh iya, ada guru bahasa Indonesia yang cantik nih, namanya ibu Ima, selain guru juga pernah jadi walikelas aku di kelas 2.
Ada lagi guru yang awalnya aku pikir adalah akhir semuanya, pak Ambros. Tapi, semuanya berubah ketika masuk kelas 3, ga seperti apa yang aku pikirkan awalnya, beliau baik, dan gangguannya asik. Lalu ada pak Gomes dan pak Sardi yang mengajarkan Olahraga, memang sih cara mengajar keduanya berbeda, tapi mereka sama-sama asik. Apalagi pak Sardi yang selalu senyum dan suaranya sesuatu banget. Ada guru konselingnya juga, namanya pak Vincent Wangge. Beliau pernah menjadi pemecah masalah terberatku ketika sesuatu yang mungkin bisa memunculkan rasa trauma tersendiri, dan yang tahu masalah hati dengan seseorang, dan membantu untuk menyelesaikannya. Lalu ketika naik kelas 3, muncul beberapa guru baru yang 2 diantaranya guru konseling juga. Ibu Anna dan pak Dicky panggilan mereka, aku kenalkan dulu dari ibu Anna. Ibu Anna guru terkenal dengan bunyi sentakan kakinya ketika berjalan. Ketika bunyi tersebut terdengar, pasti semua berkata ibu Anna lewat, dan juga baru-baru ini baru saja menikah.
Kemudian pak Dicky, sang motivator bagiku dan pelopor program madding dan juga sekarang membuat komunitas dan pembuat blogger ini juga. Pak Dicky bergabung dengan komunitas sastra Dusun Flobamora (juga jurnal sastra Santarang) yang sekarang aku geluti juga. Puisi yang aku buat, aku terbitkan di komunitas itu. Beliau guru berjiwa muda yang bisa membuatku berani dalam satu hal pribadi.
 Dan yang terakhir ini adalah yang tersayang, yaitu pak Istho. Pak Istho adalah guru yang lembut, asik, baik, dan walaupun hanya setahun bersama, ada banyak hal yang tidak akan terlupakan. Guru Bahasa Inggris yang sangat memberi kenangan. Guru di SMP ini asik, kadang guru kadang sahabat, pengertian, dan selalu tahu apa yang sedang terjadi bahkan melakukan sesuatu yang bisa memperlihatkan sesuatu yang ga pernah muncul.
 Kalau orang bilang Theresia itu ketat, kayaknya bukan soalnya dalam pengajaran atau di luar sama-sama bikin kenangan asik tersendiri dan yang pastinya ga bisa dilupain.
****
Setelah memperkenalkan guru, saatnya aku menceritakan tentang teman, sahabat, cinta, cita-cita dan tentunya kenangan yang bikin judul diatas jadi kenangan permanen. Dimulai dari kelas 7, temanku ada Ebby sang bendahara yang cerewet banget, tapi pintar dan jadi sainganku. Icha yang mukanya India banget dan Fansnya Agnes Monica sangat, Elen si kecil cerewet, Inu teman SD yang ga tahu berubah-ubah. Alvin si kacamata gula lempeng, ada Cecilia Tungga yang pintar bahasa Inggris, ada aku sang sekertaris, yang ngurusin keterangan masuknya anak-anak. Ada Bayu salah satu Trio Rote, ada Oscar yang kayak cacing tapi asik dan sering berantem dengan Jane, ada Michelle, ada Ronal yang tiap harinya melamun aja.
Ada Jeffrey yang buncit, ada Ichan teman SD yang menemukan cintanya di sini, ada Veren si kecil tapi jangan salah otaknya bukan main, ada Rendi yang jadi banknya permen, ada Citra, ada Aldo Mooy salah satu dari Trio Rote juga, ada Lia pemilik Aluminium yang bikin kejutan di hari ulang tahunku. Ada Sinyo yang ga ada ekspresi, ada Febby, ada Aldo Elim yang badan besar dan pernah ngebantu aku, ada  Yuni. Ada Philip yang gosipnya pernah suka dengan aku, ada Iin yang pernah jadi saksi kisahku, dan salah satu yang tomboy di kelas, ada Sandro sepupuku yang usil. Ada Charity ada Jane, ada Rosi, ada Yakhin adik sepupu kecilku yang bikin emosi, ada Ires yang kalem, ada Vanya, ada Rivan, ada Lian yang pengen jadi suster tapi tomboynya bukan main.
Aku yang anak baru yang awalnya ga lolos tes tapi bisa dapat rangking 2, adalah hal yang ga pernah aku bayangkan selama ini, lalu untuk pertama kalinya aku mengikuti bimbingan Fisika. Pertama kali masuk, aku ga tahu apa pilihanku ini benar atau salah karena aku merasa menjadi yang terbawah disana. Banyak kejadian lucu di sana, aku dibilang gembul karena suka makan saat bimbingan berlangsung, heheh… emang bener sih. Tapi, tidak menyangka aku ikut lomba di Unika dan bisa meraih juara 2 bersama Juan dan Kak Riska, padahal untuk kategori teori kelompokku urutan 5. Hanya sayangnya, rangkingku jadi turun ke 5. Kemudian masuk kelas 2, temanku masih yang itu saja, hanya Rendi pindah karena ga naik kelas, dan Cecilia pindah karena ikut orang tua, lalu muncul lagi anak baru namanya Gianti yang sekarang jadi teman akrabku karena selera kartun kita sama, hanya polosnya berlebihan.
Aku mengikuti TOT OSIS di asrama dan kenangannya tidak terlalu buruk. Kelompokku ada kak Ade, Kak Vecky, Kak Donna, dan kak Hanny. Di sana pagi-pagi udah harus senam, dan masaknya pun sendiri, pokoknya kejadiaan TOT OSIS asik deh, aku juga ikut Drumband dan yang bikin membekas itu ketika latihan, tampil, dan juara. Aku kangen alat lyraku, aku kangen omelan kak Robby. Dan ga nyangka aja karena jatuhnya aku waktu itu aku mulai merangkak lagi, dan semester 3 aku rangking 4. Lalu kesempatan pertama untukku mengikuti olimpiade fisika, walaupun hanya cadangan. Lalu masuk semester 4 aku dapat kesempatan lagi untuk mengikuti olimpiade tapi untuk biologi, hanya untuk itu aku gagal, dan jadi rapot merah untuk disini, tapi karena itu aku bisa dapat kembali rangking 2 dan juara umum urutan 8, padahal aku kira aku hanya bisa dapat rangking 3 atau tetap di angka 4.. pokoknya ga nyangka aja!
Tapi, ga lupa dengan kelas 3 yang tahun lalu dan aksel sekarang. Banyak kenangan dengan kelas 3, lucu aja biarpun ada larangan, tapi terlanjur aku suka, sayang, dengan salah satu anak kelas 3, yang bisa bikin nangis dan kesepian waktu dia pergi, tertawa dengan tingkahnya, walaupun awalnya benci, marahan, dia bisa bikin aku mau pergi ke acara sekolah dengan terusan, dia juga yang pertama kali memanggilku dengan Bintium, Manja, Cerewet, dia yang bisa bikin khawatir, dan bikin beberapa tempat di sekolah itu penting dan menjadi kenangan, dia anak kelas 3 yang berani suruh aku nyanyi dan nelpon aku setiap kali dia pengen telpon, dan panggilan yang berbekas itu PESEK. Sayangnya dulu dan sekarang beda, dia kembali ke sisi dinginnya tapi aku masih sayang.
Lalu maaf buat para guru, tapi di sini banyak cinta yang bersemi, termasuk aku dengan seseorang yang mungkin beberapa guru diantaranya tahu hubungan kami. Kalau kelas Aksel, semuanya pada gokil, beda dengan aksel tahun lalu, apalagi dengan adek pesekku yang mantannya ****. Lalu naik ke kelas 3, ada rolling kelasL sialnya aku dapat kelas A kelasnya orang-orang pintarL. Ga tahu aja apa yang akan terjadi kemudian. Berawal dari kursi kayu berdebu yang berubah menjadi kursi layaknya anak kuliah, dilengkapi dengan 2 kipas angin, papan tulis baru, dekat dengan sinyal Wi-Fi dan diijinkan bawa alat elektronik selain HP. Hanya sayangnya kok rangkingku turun jauh jadi 26 yah? Huffh.. nyesal pasti. Tapi, ga sebanding dengan kebersamaan kelas ini.
Ada Gerry si om Bambang, ada Steven si kacamata penjaga hati Kathryn dan antenna penguat sinyal, ada Antoni si buncit, ada Gianti, ada Ebby yang lagi-lagi masih dengan teriakan dasyatnya, ada Liana si sipit, ada Kathryn si tembem pemilik hati Steven, ada Hoan, ada Rhya sang ketua kelas yang bikin gebrakan baru bersama cocot, dan gelembung, ada Veren yang semakin dewasa, ada Jocelyn yang bikin Antoni deg-degan, ada Ivana dengan lesung pipi dan banana cutenya, ada Irma dengan tertawa dasyatnya, ada Rio dengan kemayunya, ada Michael dengan wajah tenganganya, ada Juan si kereta kencana pemilik hati Gebby Carolin, ada Febby, ada Ires yang tambah cerewet, ada Ghabby yang imut-imut gimana gitu, ada Christin Saik dengan lembutnya, ada Esti dengan pemalunya, ada Angel dengan rambut panjangnya yang sekarang digunting pendek, ada Elvira si panda imut, ada Sheilla yang ternyata cerewet juga, ada litha fans SuJu, ada Rice anaknya Obama, ada Savio dengan suara toanya, ada Isac, ada Ichan yang setia dengan anak tetangga, ada Mario yang jadi pendiam, ada Yini, ada Chintya yang selalu teriak ketika disetuh pinggangnya, ada Regina dan Elva yang sangat pendiam. Persaingan kita ga sama dengan persaingan kelas lain, kita ga pernah memikirkan tentang hasil tapi kebersamaan. Ini yang membuatku susah untuk berpisah dengan mereka.
Banyak kejadian sehari-hari yang meninggalkan kenangan sendiri seperti teriakannya Rhya, cerewetnya Savio, gaduhnya kelas minta kipas angin dikasih nyala, seriusnya Antoni dan yg lain bikin kandang natal, lucunya ngehias kelas plusss bikin pohon natal dari botol aqua, manjat kayak monyet, suasana ret-ret yang terakhir adalah tempat terindah dalam hati, ngenyemangatin satu sama lain, jual Floridina, main wush, ngerencanain kejutan buat pak Istho, ngerayain hari ultah Rhya dan Irma, maen UNO, maen kartu, maen gelembung, ngebuat pudding untuk mereka, ngebantu pak Dicky bikin film pendek Proverb 17:17, latihan nyanyi, makan bersama, belajar bersama, saling ngebantu, ganggu-gangguan, ujian sekolah, ujian praktek, hari ultah sekolah, dimarahin pak Polce dan guru lain, masih banyak yang tidak terungkap.
 Hari terakhir sebelum UN, air mataku jatuh karena hari itu hari terakhir aku  bersalaman dengan pak Didi, seperti biasanya ketika aku dan yang lain akan ikut perlombaan dan juga karena aku tidak pernah ngebayangkan satu hal yang paling aku benci harus terjadi yaitu “PISAH” dari teman, sekolah, guru, padahal kemaren aku baru daftar dan sekarang udah harus pergi. Bukan hanya sekali aku nangis, tapi berulang kali setiap aku lihat wajah lucu dan tersenyumnya mereka di dalam kamera laptop ini. Hal yang sama pernah aku ngerasain waktu pertama kali aku merasakan perpisahan dengan orang yang aku sayang tahun lalu. Aku hanya ingin mengajukan 1 pertanyaan, apa ini memang saat terakhir dan bisakah aku tidak menangis saat perpisahaan nanti? Kalau di SD, hanya beberapa saja yang menangis lalu sekarang berapa yang akan menangis? Intinya aku sayang kalian, dan ini adalah kenangan permanen yang selalu ada di hati ini.

 
Christin Restiani Millu, bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora Kupang. Beberapa puisinya pernah di muat di Jurnal Sastra Santarang. Punya banyak koleksi puisi dan cerpen yang ia tulis sendiri. Akan melanjutkan sekolah ke SMAK Giovanni Kupang.
Bagikan di Google Plus

Redaksi menerima tulisan berupa cerpen, puisi, karya ilmiah remaja, gambar (karikatur/desain grafis) dan foto. Akan dimuat di majalah dinding, majalah elektronik dan blog ini.
Email: speqsanthers@gmail.com
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar