Putri Lubalu
Senja mulai berlalu ke peraduannya. Manjakan mata dengan semburat merah keemasan. Di sini aku termangu. Meratapi luka yang merasuki jiwa. Duri itu seakan masuk tanpa permisi. Merangsek masuk hingga hati yang terdalam.
Lalu aku berlari, hingga hilang pedih perih yang kurasakan saat ini. aku tersadar dari lamunanku, kemudian sebuah kalimat terngiang di pikiranku.
“Saat ini peranku tak lagi dibutuhkan. Lalu untuk apa aku harus bertahan?”
Mereka mencari di kala membutuhkan, namun ketika tak memb
Mereka ibarat orang yang hidup bergantung pada orang lain. Namun harus mereka ketahui, pada saat musim panen datang, benih unggulan dipisahkan dengan benih yang tak layak. Mereka akan tersingkirkan dalam cerita ini. mereka tak memiliki kualitas yang baik untuk disanjungkan, sementara yang layak, akan jadi pemenang. Ya, pemenang.
utuhkan, mereka seakan menghilang. Bahkan seperti tak mengenal. Mereka seperti benih padi di bawah tumpukan jerami, yang mustahil untuk tumbuh. Begitu miris di dalam sana, mencari seseorang yang ‘kasihan’ terhadapnya. Setelah itu berharap bahwa orang itu bisa mengerti mereka. Namun ketika mereka tumbuh bersama benih yang lain, mereka melupakan kebaikan orang yang pernah menolong.

***
Putri Lubalu adalah siswa kelas 9B SMPK St. Theresia. Senang menulis puisi di buku catatan harian.
0 komentar:
Posting Komentar